Home Informasi Setiap saat Anak-anak Laucih Trauma, Minta Poldasu dan Pangdam Tarik Pasukan dari Lahan Konflik

Anak-anak Laucih Trauma, Minta Poldasu dan Pangdam Tarik Pasukan dari Lahan Konflik

0

Anak-anak dari Simalingkar A, Desa Laucih ikut menginap bersama orangtuanya di gedung dewan sejak 24 juli hingga 1 Agustus. Mereka mengaku takut dan trauma pulang ke rumah, melihat kearoganan pihak PTPN II bersama oknum aparat berseragam merubuhkan jambur dan menghancurkan areal pertanian mereka.
Puluhan anak-anak Simalingkar A Desa Laucih Kecamatan Pancurbatu Kabupaten Deliserdang dihantui rasa ketakutan dan trauma melihat banyaknya aparat berseragam bersama sekelompok preman yang melakukan pembersihan dan perubuhan jambur serta sebahagian rumah penduduk beberapa waktu lalu di areal yang diklaim PTPN II sebagai HGU (hak guna usaha)-nya.

Hal itu diungkapkan Ketua Komisi A DPRD Sumut Sarma Hutajulu SH dan Bendahara F-PDI Perjuangan Drs Baskami Ginting , Minggu (30/7) di Medan, menanggapi ikutnya anak-anak Sekolah Dasar (SD) dari Simalingkar A Desa Laucih Kecamatan Pancurbatu melakukan aksi unjuk rasa menginap di gedung dewan.

Ketika kita bertanya kepada masyarakat, kenapa anak-anak sekolah juga ikut menginap di gedung DPRD Sumut, mereka mengaku takut dan trauma pulang ke rumah, karena di desanya banyak oknum aparat berseragam, sehingga anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar itu tetap ikut bersama orangtuanya di gedung dewan.

Baskami merasa sedih mendengar keluhan anak-anak SD yang dianggap masih terlalu dini menyaksikan kekerasan dan kearoganan pihak PTPN II melalui tangan oknum aparat berseragam merubuhkan jambur dan rumah penduduk dalam operasi pembersihan lahan yang diklaim masyarakat sebagai ahli waris Sibayak Laucih.

Kita sangat menyesalkan kearogansian pihak PTPN II yang terlalu memaksakan kehendak melakukan pembersihan lahan dengan mengabaikan hasil rapat dengar pendapat Komisi A dengan manajemen PTPN II, BPN Sumut dan masyarakat Laucih pada 13 Juli lalu. Hasil pertemuan itu menyimpulkan, agar semua pihak tidak melakukan aktivitas apapun di lahan yang berkonflik, sebelum ada hasil pertemuan lanjutan yang rencananya digelar pada 1 Agustus ini. Tapi ternyata tidak diindahkan pihak PTPN II dan tetap melakukan pembersihan.

Untuk memperkuat hasil pertemuan tersebut, Ketua DPRD Sumut H Wagirin Arman SSos juga menyurati pihak PTPN II, agar segera menghentikan segala aktivitas berupa pembersihan serta perusakan jambur, rumah dan tanaman warga di lahan Desa Laucih.

Tapi surat Wagirin Arman tersebut tetap diabaikan pihak PTPN II, sehingga masyarakat bersama anak-anaknya menginap di gedung dewan sejak 24 Juli lalu yang rencananya akan terus menginap hingga 1 Agustus sesuai jadual rapat lanjutan membahas masalah lahan Laucih, karena mereka tidak berani pulang ke rumah, takut diteror oknum preman.

Berkaitan dengan itu, tambah Sarma Hutajulu, anak-anak Desa Laucih meminta kepada Kapoldasu dan Pangdam I/BB untuk segera menarik pasukan masing- masing dari lahan yang disengketakan, guna memberi rasa aman dan perlindungan kepada rakyat, bukan malah sebaliknya membuat rakyat menangis, mengalami ketakutan dan trauma.

Baskami dan Sarma dalam keterangannya tetap meminta pimpinan dewan dalam pertemuan yang dijadualkan pada 1 Agustus di DPRD Sumut melibatkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) Sumut, baik Gubsu, Pangdam I/BB dan Kapoldasu serta Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumut, agar semua pihak tidak lagi memaksakan kehendak serta mengklaim sebagai pemilik lahan yang sah sesuai HGU yang dikeluarkan pada tahun 2009.

Mari kita selesaikan persoalan ini secara musyawarah dan semaksimal mungkin jauhkan cara-cara kekerasan. Soal status tanah yang masing-masing mengklaim sebagai pemilik yang sah, dapat diperiksa keabsahan kepemilikannya oleh BPN Sumut. Apalagi HGU yang diklaim PTPN II keluar pada 2009 perlu dipertanyakan keabsahannya, sebab syarat pengusulan HGU harus ada kantor PTPN di areal itu. Sementara kita tahu sudah 20 tahun lahan itu telah dikuasai rakyat.

SHARE