Home Informasi Berkala Usia 15 Tahun, TR Menjadi Wanita Penghibur di Kabupaten Lahat, Berapapun Dikasih...

Usia 15 Tahun, TR Menjadi Wanita Penghibur di Kabupaten Lahat, Berapapun Dikasih Pelanggan Ia Ambil

0
Usia 15 Tahun, TR Menjadi Wanita Penghibur di Kabupaten Lahat, Berapapun Dikasih Pelanggan Ia Ambil

Polda Sumsel – Razia rutin yang dilakukan petugas Polisi Pamong Praja (Pol PP) dan di-back up oleh anggota Intel Kodim 0405 Lahat berhasil mengamankan Lima wanita penghibur. Lima wanita penghibur itu digaruk dari sejumlah kafe di Desa Muaralawai Merapi Timur Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, pada Kamis (14-9-2017) dini hari.

 

Kelimanya masing-masing, MA (20), EM (27), TR (20), MG (19) dan ME (22). Kendati akhirnya dilepas kembali, kelima perempuan yang kerap disebut ‘kupu kupu malam’ ini mengaku perbuatan yang dilakoninya salah dan dilarang agama meski hal tersebut dilakukan karena terpaksa.

 

Hal ini seperti diakui TR, perempuan berambut panjang yang mengenakan baju hitam lengan pendek dan bercelana levis panjang ini aktifitas atau perbuatan menjadi wanita penghibur salah, menyalahi dan tentu dilarang agama.

 

Namun demikian, aku TR kondisi dan tuntutan ekonomi-lah yang memaksa dirinya harus rela bekerja sebagai wanita penghibur. TR yang mengaku berasal dari Kota Pagaralam dan saat ini tinggal di rumah kontrakan yang berada di Kabupaten Muaraenim.

 

Ia menuturkan, dirinya menekuni dunia hiburan malam berawal dari ajakan temannya, tepatnya sekitar lima tahun silam. Saat itu, dibeberkan TR, usianya masih belia yakni 15 tahun. Awalnyo cubo-cubo sih nuruti ajakan kawan.

 

Tapi lamo-lamo mulai menikmati, tuturnya, malu-malu. Dalam menekuni profesinya, TR mengaku hanya sekedar menemani pengunjung kafe menjadi wanita penghibur, dan bukan melakukan prostitusi.

 

Selama menemani pengunjung, dirinya tidak mematok tarif yang harus dibayarkan kepadanya, melainkan seikhlasnya. Idak matok. Berapo be dikasih ku mbek. Ado yang Rp. 50 ribu, ado yang Rp. 100 ribu. Macem-macem, tuturnya. Terkait pencidukan atas dirinya, TR mengaku kapok.

 

Usai dibebaskan, dirinya mengaku mungkin akan pulang kembali ke kampung halamannya, Pagaralam, untuk mencari profesi baru. Perempuan mano pak yang galak gawe mak ini. Cuman makmano tepakso. Ingin keluar dari ‘dunia ini’ dan kembali ke jalan benar. Yo pak sudah ini nak balek dusun semoga ado gawe yang lebih baik lagi, ujar TR.

 

Sementara, meskipun kerap menjadi sasaran razia, namun sejumlah kafe di Desa Muaralawai Kecamatan Merapi Timur hingga kini masih terus eksis sebagai tempat minum-minuman keras (Miras) dan prostitusi.

 

Kepala Dinas Pol PP, Heri Alkahfi, didampingi Kabid Ketertiban Umum (Tibum), Abdul Rauf, melalui Kasi Operasional dan Pengendali, Faisal menjelaskan, operasi yang digelar pihaknya di Muaralawai adalah operasi rutin yang sudah menjadi tugas rutinitas dan tupoksi Pol PP dalam rangka menegakkan Peraturan Daerah (Perda).

 

Jadi kami hanya menjalankan tugas rutin kami, salah satunya operasi Pekat.

 

Sedangkan masalah kebijakan penutupan kafe, tentu kami sangat menyambut jika semua kafe yang ada ditutup. Hanya saja, pengambilan kebijakan ini bukan wewenang kami. Kecuali jika memang ada perintah. Sebab, sekali lagi, kami di sini hanya menjalankan perintah, jelasnya.

SHARE