Home Informasi Berkala Buntut Dari Truk Batubara, Jalan Lintas Sumatera Muaraenim Macet Belasan Kilometer

Buntut Dari Truk Batubara, Jalan Lintas Sumatera Muaraenim Macet Belasan Kilometer

0
Buntut Dari Truk Batubara, Jalan Lintas Sumatera Muaraenim Macet Belasan Kilometer

Polda Sumsel – Buntut dari truk batubara milik PT. Tiga Putra 86 menabrak Angkutan Pedesaan (Angdes) di Desa Ujanmas Baru, masyarakat Desa Ujanmas Baru dan Ulak Bandung Kecamatan Ujanmas, melakukan aksi penyetopan angkutan batubara di Lais Dusun 7, Desa Ulak Bandung, Kecamatan Ujanmas, Kabupaten Muaraenim, Sumatera Selatan, pada Jumat (22-9-2017) sekira pukul 23.00 wib.

 

Informasi yang berhasil dihimpun dilapangan, aksi penyetopan angkutan batubara yang dilakukan masyarakat Desa Ujanmas Baru dan Ulak Bandung, tersebut menyebabkan kemacetan total sepanjang 10 km lebih di jalan Lintas Sumatera, Desa Ujanmas Baru Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Muaraenim.

 

Akibatnya banyak kendaraan yang tidak sabaran saling mendahului melalui kiri dan kanan jalan sehingga terjadi kemacetan. Menurut warga yang melakukan penyetopan tersebut, Edison didampingi oleh Wendra, kakak dari korban JI, mengatakan aksi tersebut dilakukan karena mereka menilai pihak perusahaan terkesan lepas tangan terhadap korban-korban kecelakaan.

 

Kita check up hari ini saja sudah menggunakan biaya pribadi tidak ada lagi tindakan dari pihak perusahaan terhadap korban-korban, ujar Edison. Pada pengobatan pertama usai kecelakaan, lanjut Edison, pihak perusahaan memang menanggung biaya pengobatan.

 

Namun, setelah itu pihak perusahaan tidak bertanggungjawab lagi. Seharusnya pihak perusahaan bertanggung jawab mengobati sampai adiknya dan korban lainnya sembuh. Jadi kita melakukan aksi ini agar pihak perusahaan bersedia menemui kita dan menyelesaikan masalah ini serta memberikan hak kita, baik masalah pengobatan maupun santunan terhadap para korban, ungkapnya kesal.

 

Sebelumnya, lanjut Edison, pihak korban dan PT. Tiga Putra 86 telah melakukan mediasi di Polsek Gunung Megang pasca lakalantas tersebut. Dalam mediasi itu, pihak perusahaan yang diwakili oleh Pongo dan Iwan memberikan dua pilihan kepada pihak korban, yakni damai pengobatan atau damai lepas (ganti biaya pengobatan).

 

Kemudian, pihak korban memilih damai lepas, namun setelah pihak korban mengajukan jumlah uang untuk pengobatan, pihak perusahaan tidak ada jawaban hingga hari ini.

 

Padahal, pihaknya bersedia bernegosiasikan lagi jumlah uang pengobatan jika pihak perusahaan tidak menyanggupinya. Hingga pagi tadi, sebelum check up kami menghubungi Iwan selaku pihak perusahaan, namun dirinya mengatakan bahwa hal itu bukanlah tanggung jawabnya lagi,” tegasnya.

 

Hal senada disampaikan Supriadi, kakak dari korban RI. Dia mengatakan jika pada pukul 10.30 pagi tadi, dia sudah menghubungi pihak perusahaan yakni Pongo namun jawabannya sama dengan jawaban yang disampaikan kepada Edison.

 

Untuk itu pihaknya akan terus menuntut pertanggungjawaban dari perusahaan atas para korban. Disampaikan oleh Pongo bahwa pihak perusahaan tidak sanggup untuk memenuhi tuntutan dari pihak korban. Bosnya di Jakarta katanya hanya mampu membayar paling tinggi Rp. 5 juta untuk korban patah kaki, serta Rp. 1 juta dan Rp. 500 ribu untuk tiga korban lainnya, ujar Supriadi.

 

Sementara itu, hingga berita ini ditulis sedang dilakukan negosiasi antara pihak korban dengan perusahaan di Polsek Gunung Megang, sedangkan kemacetan tersebut terjadi dari pukul 16.30 hingga berita ini diturunkan masih berlangsung meski petugas telah diturunkan untuk menguraikan kemacetan.

SHARE