Home Informasi Berkala Pelaku Langsung Melancarkan Aksi Dengan Mengajak Korban Ke Pondok Dan Memaksanya Melakukan...

Pelaku Langsung Melancarkan Aksi Dengan Mengajak Korban Ke Pondok Dan Memaksanya Melakukan Hubungan Suami Istri

0
Pelaku Langsung Melancarkan Aksi Dengan Mengajak Korban Ke Pondok Dan Memaksanya Melakukan Hubungan Suami Istri

Polda Sumsel – Seorang pria beranak dua, pelaku inisial AF (33), warga Jalan Bukit lebar Kelurahan Majasari Kecamatan Prabumulih Selatan Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, diringkus jajaran unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Reskrim Polres Prabumulih, pada Kamis (21-9-2017).

 

AF diringkus petugas akibat ulahnya memperkosa anak di bawah umur berinisial HA Alias BU (17), warga Kelurahan Prabujaya Kecamatan Prabumulih Timur kota Prabumulih. AF diciduk petugas ketika tengah mengantar anak pertamanya sekolah di SD kawasan Bakaran.

 

Aksi pemerkosaan oleh pria yang sehari-hari bekerja sebagai pekerja outsourcing di PT. PLN Prabumulih itu, dilakukan di kebun Karamunting kawasan Bakaran kelurahan Majasari kota Prabumulih. Terbongkarnya aksi bejat pelaku tersebut setelah korban bercerita ke kedua orang tuanya.

 

Keluarga yang tak senang hendak melapor ke polisi, namun upaya keluarga sempat terhenti karena pelaku berjanji akan menikahi korban tetapi janji pelaku tak kunjung ditepati. Hingga akhirnya orang tua korban melaporkan apa yang dialami anaknya hingga pelaku diringkus polisi.

 

Informasi berhasil dihimpun dilapangan, peristiwa pemerkosaan bermula ketika pelaku yang bekerja di PLN berkenalan dengan korban yang bekerja di warung sebelah PLN di Meter Prabumulih. Singkat cerita, keduanya kemudian menjalin asmara alias berpacaran. Lantaran merasa korban bisa dikelabui dan dipaksa, pelaku kemudian mengajak gadis malang tersebut untuk ngobrol-ngobrol di kebun Karamunting kawasan Bakaran.

 

Korban yang polos lalu mengikuti ajakan tersebut. Namun baru sampai di kebun tersebut pelaku langsung melancarkan aksi dengan mengajak korban ke pondok dan memaksanya untuk melakukan hubungan suami istri.

 

Korban sempat terus menolak ajakan pelaku, namun dengan sedikit ancaman dan bujuk rayu akhirnya pelaku berhasil merengut kegadisan korban. Usai melakukan pemerkosaan itu pelaku meminta agar apa yang dilakukan tidak diceritakan ke siapapun karena korban akan dinikahi. Pelaku yang merasa perbuatannya aman kemudian kembali memaksa korban melakukan hubungan layaknya suami istri itu hingga beberapa kali.

 

Tak kuat dengan apa yang terus dilakukan pelaku, korban akhirnya menceritakan apa dialaminya ke keluarga. Orang tua korban yang tidak terima dengan perbuatan pelaku lalu menemui pelaku dan keluarga, selanjutnya dalam pertemuan yang dimediasi ketua rukun warga, pelaku berjanji akan menikahi korban.

 

Namun hingga beberapa bulan janji tak kunjung ditepati, hingga akhirnya korban dan keluarga melaporkan pelaku ke polisi. Petugas yang mendapat laporan langsung mengamankan pelaku ketika tengah mengantar anaknya sekolah di kawasan Bakaran. Di hadapan petugas, pelaku mengakui perbuatannya dan menyatakan dirinya tidak memperkosa namun melakukan hubungan suami istri itu atas dasar suka sama suka.

 

Tidak ada saya memaksa atau mengancam, kami berhubungan suka sama suka, beberapa kali melakukan itu tidak pernah saya memaksa, kata pelaku ketika dibincangi di PPA Polres Prabumulih. Pelaku mengatakan, dirinya tidak kunjung menikahi korban karena tidak mempunyai uang dan tidak sanggup menceraikan istri pertamanya.

 

Gaji saya hanya Rp. 2,5 juta tidak cukup untuk nikah, anak saya dua dan istri pertama tidak bekerja makanya tidak saya nikahi, bebernya seraya mengatakan menyetubuhi korban karena selalu diminta.

 

Kasat Reskrim Polres Prabumulih, AKP Eryadi Yuswanto, SH melalui Kanit PPA, Ipda Usmantoro ketika diwawancarai mengatakan, pelaku diringkus karena menyetubuhi anak dibawah umur dengan paksaan dan iming-iming.

 

Pelaku kami ringkus usai mengantar anaknya sekolah di kawasan Bakaran, sast ini pelaku masih terus menjalani pemeriksaan kami dan atas perbuatannya pelaku akan kami jerat pasal 81 UU no 35/2014 tentang pelindungan anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara, tegasnya.

SHARE