Beranda Informasi Serta Merta Polda Sumut Tangkap Salah Satu Buronan Pelaku Jaringan SIM Palsu di Medan

Polda Sumut Tangkap Salah Satu Buronan Pelaku Jaringan SIM Palsu di Medan

0

Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda) berhasil menangkap satu dari dua buronan kasus pembuatan surat izin mengemudi (SIM) palsu, Senin (9/10/2017).
Fandi Faradi alias Ibet alias Gondrong (32) dihadiahi timah panas saat ditangkap Subdit III/Jatanras Ditreskrimum Polda Sumut di Simpang Melati, Medan.
Ibet meringis kesakitan dan harus dipapah saat berada di lantai II Gedung Ditreskrimum Polda Sumut, Kaki kanannya tampak dibalut perban yang sudah kelihatan memerah.
“Ibeth ini berperan mengantarkan SIM palsu yang sudah selesai dibuat ke para pemesannya,” kata Wakil Direktur Ditreskrimum AKBP Maruli Siahaan.
Sebelumnya polisi telah menangkap 3 rekan tersangka dalam sebuah penggerebekan rumah kontrakan yang dijadikan markas pembuatan SIM palsu di Jalan Setia Luhur, Gang Arjuna, No.9, Helvetia. Ketiganya, Herman Pohan (34) yang berperan menyediakan tempat dan peralatan, Irwansyah (33) alias Bokir berperan membuat SIM palsu dan Ridha Fahami (37) pembuat SIM palsu.
Selain menangkap keempat tersangka, polisi juga menyita barang bukti berupa 1 ton SIM bekas, 33 lembar SIM palsu siap edar, gunting, pisau, pulpen, nomor-nomor kontak pemesan, 17 lembar fotokopi identitas Kasat Lantas Polrestabes Medan, sekantong foto calon pemesan, 2 unit komputer, 1 unit scanner, 2 unit pelantang, dan lainnya. Dari keempat pelaku, diketahui Ridha Fahami merupakan salah seorang oknum polisi berpangkat Bripka, bertugas di bagian Yanma Poldasu.
Ia juga diduga membekingi operasi pembuatan SIM palsu. “Untuk tersangka Hendro, kami imbau agar segera menyerahkan diri. Jika tidak akan kami tindak tegas,” tandas mantan Wadir Reskrimsus Polda Sumut itu. Sementara pelaku, Fandi Faradi saat ditanya wartawan, mengaku dia hanya mendapat bagian Rp50 ribu perharinya. Sementara SIM palsu yang dijual, bertarif antara Rp500 ribu sampai Rp600 ribu. Untuk SIM A Rp500 ribu dan SIM B Rp600 ribu sedangkan SIM C Rp300 ribu.
“Saya hanya dapat bagian Rp50 ribu perhari, Bang,” kata Ibet. Sedangkan salah satu korban, Siti Aisyah (25), pegawai swasta, tempo hari mengatakan ia sama sekali terkejut saat mengetahui kalau tetangganya itu adalah sindikat pembuat SIM palsu.
“Salah satu dari mereka kan polisi. Mereka bilang ke saya, mereka bisa menguruskannya dan mudah. Saya percaya saja. Makanya pas tahu kawan-kawan kantor kalau saya sudah punya SIM, mereka menitipkan untuk dibuatkan juga SIM. Ya kami pesan 10 lembar. Saya sudah bayar lunas untuk 10 lembar SIM C,” pungkasnya
Dengan ini, satu buronan yang tersisa bernama Hendro masih dalam pengejaran polisi.
“Untuk tersangka Hendro, kami imbau agar segera menyerahkan diri. Jika tidak akan kami tindak tegas,” tandas AKBP Maruli Siahaan. (ms)

BAGIKAN