Home Informasi Serta Merta Polisi Wonogiri Sosialisasikan Larangan Pemakaian Merkuri

Polisi Wonogiri Sosialisasikan Larangan Pemakaian Merkuri

0

Polres Wonogiri — Sosialisasi pelarangan pemakaian merkuri atau air raksa pada penambangan emas tradisional, kini digalakkan oleh jajaran Polsek Selogiri pimpinan Kapolsek AKP Sentot Ambar Wibowo. Karena air raksa, mencemari lingkungan dan membahayakan bagi kesehatan makhluk hidup.

Air raksa (Hydrargyrum) atau cairan perak, adalah unsur kimia dengan simbol Hg dan nomor atom 80. Cairan kimia ini, dipakai sebagai bahan pelengkap dalam proses mesin glundung, untuk mengikat butiran-butiran emas. Ini dilakukan oleh para penambang emas tradisional, yang melakukan penambangan di Desa Jendi dan Desa Keloran, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.

Kapolres Wonogiri AKBP Mohammad Tora, SH, SIK dan Kapolsek Selogiri AKP Sentot Ambar Wibowo, melalui Kasubag Humas Polres AKP Hariyanto, Rabu (1/11), menyatakan, sosialisasi pelarangan merkuri, dilakukan sesuai perintah Kapolri dalam upaya mendukung program pemerintah, yaitu Indonesia bebas merkuri Tahun 2018.

Untuk mensosialisasikan pelarangan merkuri ini, jajaran kepolisian Wonogiri mengedepankan fungsi Bhabinkamtibmas, untuk melakukan kegiatan pencegahan dan deteksi dini, didukung dengan upaya penegakan hukum. Langkah tersebut, dilakukan dengan pemberian pemahaman kepada warga masyarakat utamanya para pelaku tambang emas tradisional, yang selama ini memakai air raksa sebagai kelengkapan mereka dalam memproses batuan hasil galian pada mesin glundung mereka, untuk mendapatkan butiran-butiran emas.

Upaya memahamkan pelarangan merkuri, juga dilakukan dengan pemasangan spanduk dan baliho serta penempelan poster, berikut melakukan pendekatan melalui para tokoh warga masyarakat. Bersamaan itu, kepada penambang diberikan pemahaman mengenai aturan hukum pertambangan.

Sanksi Hukum : Yang bila tidak memiliki izin atau melakukan kegiatan penambangan secara liar, para pelakunya dapat dijerat dengan Undang-Undang Nomor: 4 Tahun 2009 tentang Minerba (Mineral dan Batubara), yang ancaman sanksi hukumannya 10 tahun penjara dan denda Rp 10 Milyar.

Terkait ini, para tokoh masyarakat diimbau dapat ikut serta memberikan perannya, untuk memahamkan undang-undang tersebut. Juga membantu memahamkan kepada para penambang, bahwa penggunaan merkuri untuk kegiatan penambangan emas, dapat membahayakan bagi kesehatan manusia dan merusak lingkungan hidup.

Kapolsek Selogiri AKP Sentot Ambar Wibowo dan Anggota Babhinkamtibmas Desa Jendi, Brigadir Andy Kurniawan beserta beberapa anggota Polsek Selogiri, juga langsung mensosialisasikan pelarangan penambangan liar dan larangan pemakaian merkuri ini, ke lokasi penambangan. Para pekerja tambang, mengaku warga asal Jawa Barat, yang melakukan kegiatan penambangan emas secara tradisional di Desa Jendi, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.

Paur Humas Polres Wonogiri, Aipda Iwan Sumarsono, menambahkan, agar tidak disebut sebagai penambangan liar, para penambang wajib mengurus izin penambangan. Di sisi lain, juga harus meninggalkan air raksa dalam proses penambangannya. Air raksa dapat digantikan dengan sodium sianida yang ramah lingkungan, sebagaimana direkomendasikan oleh Badan Pengkajian Penerapan Tekhnologi (BPPT).

Kegiatan penambangan emas secara tradisional di Desa Jendi dan Desa Keloran, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, telah berlangsung sejak tahun 1990-an. Tapi dalam melakukan kegiatan penambangan, mereka masih mengabaikan aspek keselamatan kerja, tidak memiliki izin penambangan, dan menggunakan air raksa yang mencemari lingkungan, serta membahayakan bagi kesehatan makhluk hidup.

(Humas Polres Wonogiri Polda Jateng)

(Polsek Selogiri)

SHARE