Home Informasi Setiap saat Tujuh Nelayan Pantailabu Masih Ditahan Malaysia

Tujuh Nelayan Pantailabu Masih Ditahan Malaysia

0

Anggota DPD Parlindungan Purba (tengah) menemui keluarga nelayan yang ditangkap pihak otoritas kemaritiman Malaysia di Desa Paluhsibaji, Kecamatan Pantailabu, Deliserdang, dan berjanji akan membantu proses pemulangan mereka ke kampung halaman.

Pemerintah Indonesia diminta untuk memberikan perlin­dungan serius terhadap nelayan yang ditangkap pihak otoritas kemaritiman Malaysia termasuk tujuh nelayan asal Desa Paluhsibaji, Kecamatan Pantailabu, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Ketujuh nelayan yang ditangkap pihak otoritas kemaritiman Malaysia sampai kini diperkirakan masih dalam proses persidangan.

Hal itu diungkapkan Anggota De­wan Perwakilan Daerah (DPD) Par­lindungan Purba saat bertemu dengan pihak ke­luarga nelayan yang ditangkap di ka­wasan pesisir Pantailabu tepatnya Dusun IV, Desa Paluhsibaji, Selasa (7/11).

Menurut Parlindungan, informasi yang dihimpunnya dari keluarga nela­yan yang ditangkap, sebelumnya ada 12 nelayan asal Desa Paluhsibaji ditangkap pihak otoritas kemaritiman negeri Malaysia saat melaut. Namun 5 di antaranya sudah dipulangkan karena masih berada di bawah umur dan tujuh sisanya sedang diproses di pengadilan Malaysia.

Saya baru tahu ada informasi nelayan dari desa ini ditangkap di Malaysia. Akan saya upayakan membantu memulangkan nelayan yang ditangkap. Besok saya dijadwalkan berjumpa dengan staf kepresiden dan akan menyampaikan masalah ini.

Lebih lanjut terang Parlindungan, dirinya akan menyampaikan hal-hal terkait banyaknya nelayan asal Indonesia yang ditangkap pihak otoritas kemaritiman Malaysia kepada peme­rintah Indonesia. Terutama modus penangkapan yang dinilainya mele­n­ceng dari kesepakatan antara pemerin­tah Indonesia dengan Malaysia.

Indonesia dan Malaysia punya kese­pakatan bahwa setiap nelayan yang masuk zona wilayah abu-abu (gray zone) baik dari Indonesia maupun Malaysia harus diusir kembali ke wilayah masing-masing dan bukan ditangkap.

Dari informasi nelayan, sebenarnya mereka berada di di zona abu-abu itu. Kesepakatannya nelayan tidak boleh ditangkap, tapi diusir kembali ke wilayah perairan masing-masing.

Parlindungan menilai, pemerintah Indonesia harus punya keseriusan dalam memberikan perlindungan terhadap nelayan-nelayan khususnya terkait ditangkapnya mereka di zona abu-abu yang sudah ada kesepakatan.

Kesepakatan itu seharusnya dieva­luasi kembali mengingat sudah lama berlaku dan pemerintah Indonesia harus serius untuk menegaskan kepada pihak Malaysia dalam rangka mem­berikan perlin­dungan kepada nelayan yang menjadi korban ketidakpastian dan ketidak­seriusan pemerintah terkait perbatasan laut dengan negeri jiran Malaysia.

Saya minta pemerintah menge­valuasi kembali. Karena memang kesepakatan itu sudah lama sekali dan perlu dievaluasi.

Parlindungan juga memastikan akan menyampaikan keluhan nelayan ke­pada pemerintah Indonesia terkait alasan kurangnya ikan yang berada di perairan Indonesia sehingga mereka masuk ke area abu-abu dalam mencari hasil tangkapan.

Nelayan mengeluhkan banyaknya kapal jenis pukat yang tidak ramah lingkungan sehingga merusak karang tempat jenis biota laut berkembang biak. Akibatnya, hasil tangkapan minim yang membuat nelayan nekat mencari ikan sampai area abu-abu yang informasinya sangat kaya dengan jenis hasil tangkapan laut.

Ungkapan senada juga dilontarkan Kepala Desa Paluhsibaji Abdul Hafiz yang mengaku paham betul dengan masalah nelayan di desa pimpinannya. Mayoritas nelayan yang nekat melaut sampai daerah perbatasan khususnya Malaysia dikarenakan sudah kesulitan mencari tangkapan laut yang menipis.

Menurutnya, pemerintah semestinya bertanggung jawab terhadap masalah nelayan yang mengalami kesulitan dikarenakan kapal-kapal jenis pukat tidak ramah lingkungan telah merusak rumah-rumah karang tempat biota laut berkembang biak.

Dulu sekira tahun 80-an saat jenis tangkap masih tradisional, nelayan tidak perlu jauh ke tengah laut untuk mendapatkan banyak hasil tangkap. Jarak sekira satu mil dari tepi laut saja, nelayan sudah bisa mendapatkan hasil tangkapan luar biasa.

Faktanya, kini setelah banyak kapal tidak ramah lingkungan beroperasi yang telah merusak karang laut, nela­yan me­ngalami kesulitan mencari hasil tang­kapan laut. Dampaknya, untuk bisa men­dapatkan hasil tangkapan lebih mereka nekat melaut sampai daerah perbatasan.

Hafiz secara khusus mengapresiasi kepedulian Parlindungan Purba yang sudah berkali-kali membantu memu­langkan banyak nelayan asal Paluh­sibaji khususnya yang ditangkap pihak otoritas kemaritiman Malaysia kembali ke kampung halaman.

SHARE