Polda Jateng

FGD Polres Sukoharjo, Eks Napiter Ungkap Cara Penanggulangan Ekstrimisme

Sukoharjo – Polres Sukoharjo menggelar acara Focus Group Discussion (FGD) tentang Pencegahan dan Penanggulangan Ekstrimisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme, Kamis (25/11/2021).

Dalam acara tersebut dihadiri Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan, Pasintel Kodim 0726 Sukoharjo Kapten Inf Kusnandar, Kemenag Kabupaten Sukoharjo H. Muh. Mu’alim, Eks Napiter Roki Aprisdianto, Lembaga Percik Salatiga Heri Wibowo, Local coordinator of breaking down The walls Program, Peace generation Indonesia 2021, Ninin Karlina, Pengurus MUI Kabupaten Sukoharjo, Pengurus FKUB, Ormas keagamaan NU, Muhammadiyah, LDII dan MTA dan Darul Hasyimi, serta tamu undangan lainnya.

Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan mengatakan, FGD ini merupakan kegiatan yang diinisiasi dari Satbinmas Polres Sukoharjo dengan tujuan untuk mendapatkan masukan ataupun saran dari bapak ibu sekalian. “Harapannya nanti saran dari bapak ibu sekalian dapat ditindak lanjuti dari Pemerintah Kabupaten Sukoharjo,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolres mengungkapkan, bahwa terorisme tidak ada kaitannya dengan agama, maka jangan dihubung-hububgkan dengan agama. Radikalisme terjadi karena beberapa faktor antara lain ekonomi, pendidikan dan pergaulan.

“Terorisme gaya baru bisa dipelajari lewat smartphone atau media internet karena internet bisa diakses setiap orang, maka kita harus sangat berhati – hati dalam mengakses media medsos,” ungkapnya.

“Kita juga harus mewasdai dan menjaga generasi penerus bangsa ini dari paham-paham radikalisme. Sebab perekrutan kelompok radikal atau terorisme dimulai dari para siswa SMA. Mereka mulai masuk kepada anak-anak muda yang masih labil,” tambahnya.

AKBP Wahyu menambahkan, adapun upaya-upaya dalam pencegahan terorisme yaitu dengan meminimalisir kesenjangan sosial dan perbaikan tingkat ekonomi, pemahaman ilmu dengan baik dan benar.

“ Karena ilmu adalah faktor utama dari segala aspek kehidupan, perlunya ilmu sebagai pondasi yang membentengi seseorang dari pengaruh Radikalisme yang berkembang dan menyebar dari berbagai sisi,” tandasnya.

Sementara itu, Eks Napiter Roki Aprisdianto mengatakan, ada 3 point yang menyumbat dalam mewujudkan toleransi. 3 sumbatan tersebut adalah sumbatan sesama agama, sumbatan antar agama, dan sumbatan berbangsa dan bernegara.

“Jadi apabila kita ingin mewujudkan toleransi dan mencegah terjadinya terorisme, maka kita harus menyelesaikan sumbatan-sumbatan tersebut. Yaitu menyelesaikan sumbatan sesama agama, sumbatan antar agama, dan sumbatan berbangsa dan bernegara,” jelasnya.