Kapolda Papua: Kami Akan Melakukan Penegakkan Hukum Kepada Pelaku Tindak Kejahatan Di Timika By HUMAS AR – 29 Februari 2020 9

  • Version
  • Download 12
  • File Size 408.00 KB
  • File Count 1
  • Create Date 29 Februari 2020
  • Last Updated 29 Februari 2020

Kapolda Papua: Kami Akan Melakukan Penegakkan Hukum Kepada Pelaku Tindak Kejahatan Di Timika By HUMAS AR - 29 Februari 2020 9

terkait penembakan anggota Brimob di Tembagapura Mimika dan menyatakan akan melakukan penegakan hukum terhadap para pelaku Kejahatan di Timika, Sabtu (29/02/2020) pukul 12.50 Wit.

Dalam kesempatannya Kapolda Papua Irjen Pol Drs. Paulus Waterpau menjelaskan bahwa ia sangat prihatin atas gugurnya anggotanya dalam penegakan hukum terhadap KKB yang terjadi pada hari Jumat tanggal 28 Februari 2020 di sekitar Tembagapura. Atas nama Pimpinan Polri dan Polda Papua beserta jajaran menyampaikan turut berduka.

“Ada beberapa kelompok KKB yang bergabung di Tembagapura dan saat ini kita sedang konsen hadir beberapa kali di Timika untuk mensiasati dalam melakukan penegakan hukum terhadap mereka, memang kita mengalami kesulitan dalam melumpuhkan pergerakan kelompok ini karena beberapa faktor alam, geografis, penguasaan medan dan lingkungan,” kata Kapolda Papua.

Kapolda menduga mereka ingin menguasai area pertambangan PT. Freeport, dimana mereka sudah melakukan beberapa gangguan seperti di Puncak, Wamena, Intan Jaya hingga mengarah ke PT. Freeport dan Timika, ia berkomitmen terus menyusun bagaimana cara bertindak untuk mengatasi Kelompok ini.

“Kami mengharapkan masyarakat juga ikut membantu karena tanpa masyarakat kita akan sulit dan menghimbau bila melihat ada pelaku-pelaku yang berkeliaran di wilayah agar segera diinformasikan pertama pada Polisi serta kepada semua pihak janganlah memutarbalikan fakta yang seakan – akan kami tidak melakukan upaya tindakan hukum,” ujar Kapolda Papua.

Kapolda juga berencana akan ke Dogiyai yang mana saat ini Bupati Dogiyai, Wakil Bupati Nabire dan Kapolres Nabire sudah mengeluarkan release/statmen dimana kasus tersebut murni laka lantas namun karna salah tafsir dari masyarakat sehingga mereka menghakimi supir truk dan Kepolisian sudah melakukan tindakan hukum.

Wilayah Dogiyai agak sulit ditempuh karena memakan waktu perjalanan selama 6 jam dari Nabire hingga menyulitkan perbantuan dan wilayah ini juga merupakan lintasan Nabire – Paniai dengan kecenderungan kendaraan berkecepatan tinggi.

“Kita berharap kepada semua pihak dapat menerima karena kejadian itu diluar kendali, terhadap anggota yang ada di TKP kita sudah periksa dan pada prinsipnya mereka lalai dan tidak segera menolong terkait hal itu saya akan bertanggung jawab,” tegas Kapolda Papua Irejan Pol Drs. Paulus Waterpauw.

Pada kesempatan yang sama dilanjutkan penyampaian Perwakilan Komnas HAM Prov. Papua Frits Ramandey yang mengatakan, dari beberapa rangkaian kejadian yang terjadi ini merupakan siklus kekerasan dimana kekerasan itu terjadi menggunakan senjata, oleh karena itu Komnas HAM menyampaikan keperihatinan karena  mengakibatkan adanya korban meninggal dunia.

Sejak lama hak rasa aman bagi orang-orang di wilayah pedalaman sangat terganggu dengan adanya kelompok bersenjata yang terus melakukan tindakan kekerasan dan intimidasi. Perwakilan Komnas HAM Prov. Papua tersebut meminta kepada otoritas sipil seperti Bupati, Ketua DPRD dan stakeholder seperti masyarakat adat, ondoafi dan kepala suku serta pihak gereja agar dapat saling berkumpul/duduk bersama mencari solusi dalan menghentikan semua pihak kekerasan.

“Saya juga minta kepada kelompok sipil bersenjata untuk tidak membabibuta melakukan tindakan – tindakan kekerasan dengan menjadikan masyarakat sebagai tameng yang nantinya mereka akan menjadi korban,” tutur Perwakilan Komnas HAM Prov. Papua Frits Ramandey.

Perlunya penghargaan bagi mereka yang telah gugur dalam tugas, dalam definisi Undang-undang Nomor 39 menyebutkan bahwa setiap perbuatan seseorang atau kelompok seseorang atau aparat tindakan yang melakukan hilangnya hidup seseorang maka itu termasuk pelanggaran HAM. dimana kelompok bersenjata tersebut harus bertanggung jawab atas tindakan kekerasan yg telah hilangnya nyawa seseorang.

Tindakan brutalisme yang dilakukan kelompok di Dogiyai adalah kasus kriminal oleh karena itu perlunya tindakan hukum guna untuk memastikan perbutan tersebut. Kasus ini akan di investigasi oleh Komnas HAM dimana adanya korban yang dianiaya meninggal.

“Saya berpesan bagi semua pihak yang ada di Dogiyai dan di luar agar menahan diri dengan memberikan kesempatan kepada kepolisian untuk mengungkap kasus tersebut,” harap Frits Ramandey.

Penyampaian Kapolres Mimika AKBP I Gusti Gde Era Adhinata yang mengatakan turut berduka cita atas gugurnya anggota Polri dimedan tugas, ia mengatatakan akan melakukan penyidikan dan penyelidikan.

”Kami sudah mengetahui pelakunya yang mana sama melakukan penyanderaan para guru kemarin, sebagai aparat TNI/Polri kami tidak akan memberikan kesempatan kepada mereka dalam pergerakan dan kami tetap melakukan pendekatan terhadap masyarakat sipil dengan harapan dapat bekerja sama menjaga keamanan di Tembagapura maupun di Timika,” tutup Kapolres Mimika AKBP I Gusti Gde Era Adhinata.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *